Laman

Kamis, 16 April 2015

Move On ke Bioetanol


Indonesia adalah Negara kaya akan sumber daya alamnya, baik itu yang dapat diperbarui maupun yang tidak dapat diperbarui. Indonesia pun memiliki banyak sumber daya manusia yang bisa dimanfaatkan. Seperti yang kita ketahui pada saat ini bensin dihasilkan dari pembakaran fosil, dimana fosil merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui sehingga dapat dipastikan beberapa puluh tahun kedepan sumber daya alam fosil ini akan habis. Maka dari itu sudah seharusnya kita mencari bahan bakar alternative untuk menangani masalah ini. 

Bioetanol adalah salah satu alternative yang mulai dikembangkan di berbagai Negara sebagai pengganti bensin. Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme.
Proses pembuatan bioetanol ini juga dapat dilakukan di rumah rumah. Cara pembuatannya aalah sebagai berikut :
1.       Persiapan Bahan Baku
a)      Nira bergula (sukrosa) : tebu,kelapa,aren, sari buah mete
b)      Bahan berpati : Tepung tepungan, sagu, singkong, ubi jalar, umbi dahlia
c)       Bahan berselulosa (betha lignoselulosa) : kayu, jerami, batang pisang, batang jagung.

2.       Liquifikasi dan Sakarifikasi
Kandungan karbohidrat berupa tepung atau pati pada bahan baku dikonversi menjadi gula komplex menggunakan Enzym Alfa Amylase melalui proses pemanasan (pemasakan) pada suhu 90 derajat celcius (hidrolisis). Pada kondisi ini tepung akan mengalami gelatinasi (mengental seperti Jelly). Pada kondisi optimum Enzym Alfa Amylase bekerja memecahkan struktur tepung secara kimia menjadi gula komplex (dextrin). Proses Liquifikasi selesai ditandai dengan parameter dimana bubur yang diproses berubah menjadi lebih cair seperti sup. Sedangkan proses Sakarifikasi (pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana) melibatkan tahapan sebagai berikut :
a)      Pendinginan bubur sampai mencapai suhu optimum Enzym Glukosa Amylase bekerja. 
b)      Pengaturan pH optimum enzim.
c)       Penambahan Enzym Glukosa Amilase secara tepat dan mempertahankan pH serta temperatur pada suhu 60 derajat celcius hingga proses Sakarifikasi selesai (dilakukan dengan melakukan pengetesan kadar gula sederhana yang dihasilkan).

3.       Fermentasi

Pada tahap ini, tepung telah telah berubah menjadi gula sederhana (glukosa dan sebagian fruktosa) Selama proses fermentasi akan menghasilkan cairan etanol/alkohol dan CO2. Hasil dari fermentasi berupa cairan mengandung alkohol/ethanol berkadar rendah antara 7 hingga 10 % (biasa disebut cairan Beer).



4.        Destilasi.
Destilasi atau lebih umum dikenal dengan istilah penyulingan dilakukan untuk memisahkan alkohol dalam cairan beer hasil fermentasi. Dalam proses distilasi, pada suhu 78 derajat celcius (setara dengan titik didih alkohol) ethanol akan menguap lebih dulu ketimbang air yang bertitik didih 95 derajat celcius. Uap ethanol didalam distillator akan dialirkan kebagian kondensor sehingga terkondensasi menjadi cairan ethanol. Penyulingan ethanol dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara :
a)      Penyulingan menggunakan teknik dan distillator tradisional (konvensional). Dengan cara ini kadar ethanol yang dihasilkan hanya berkisar antara antara 20 s/d 30 %.
b)      Penyulingan menggunakan teknik dan distillator model kolom reflux (bertingkat). Dengan cara dan distillator ini kadar ethanol yang dihasilkan mampu mencapai 90-95 % melalui 2 (dua) tahap penyulingan.
5.        Dehidrasi
Hasil penyulingan berupa ethanol berkadar 95 % belum dapat larut dalam bahan bakar bensin. Untuk substitusi BBM diperlukan ethanol berkadar 99,6-99,8 % atau disebut ethanol kering. Untuk pemurnian ethanol 95 % diperlukan proses dehidrasi (distilasi absorbent) menggunakan beberapa cara,antara lain :
a)      Cara Kimia dengan menggunakan batu gamping
b)      Cara Fisika ditempuh melalui proses penyerapan menggunakan Zeolit Sintetis. Hasil dehidrasi berupa ethanol berkadar 99,6-99,8 % sehingga dapat dikatagorikan sebagai Full Grade Ethanol (FGE),barulah layak digunakan sebagai bahan bakar motor sesuai standar Pertamina. Alat yang digunakan pada proses pemurnian ini disebut Dehidrator.
Bioetanol memiliki kelebihan yaitu hasil pembakarannya mengeluarkan gas CO2 lebih banyak daripada bensin. Sehingga dapat menekan angka polusi di udara. Karena gas CO2 ini dapat dipergunakan tumbuhan untuk melakukan fotosintesis. Diharapkan dengan adanya bioetanol ini penggunaan bahan fosil berkurang dan hasil pembakaran yang dipakai lebih ramah lingkungan. 

Sumber :
Sarwendahs. 2013. Bioetanol Dari Tumbuhan. Jawa TImur. http://sarwendahs.blogspot.com/2012/04/bioetanol-bensin-dari-tanaman.html
Anonim. Pelatihan Membuat Bioetanol Dari Singkong. Bogor. http://www.indobioethanol.com/sumber_lain.php

Tidak ada komentar:

Posting Komentar