Indonesia
adalah Negara kaya akan sumber daya alamnya, baik itu yang dapat diperbarui
maupun yang tidak dapat diperbarui. Indonesia pun memiliki banyak sumber daya
manusia yang bisa dimanfaatkan. Seperti yang kita ketahui pada saat ini bensin
dihasilkan dari pembakaran fosil, dimana fosil merupakan sumber daya alam yang
tidak dapat diperbarui sehingga dapat dipastikan beberapa puluh tahun kedepan
sumber daya alam fosil ini akan habis. Maka dari itu sudah seharusnya kita
mencari bahan bakar alternative untuk menangani masalah ini.
Bioetanol adalah salah satu alternative yang mulai dikembangkan di berbagai Negara sebagai pengganti bensin. Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme.
Bioetanol adalah salah satu alternative yang mulai dikembangkan di berbagai Negara sebagai pengganti bensin. Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme.
Proses
pembuatan bioetanol ini juga dapat dilakukan di rumah rumah. Cara pembuatannya
aalah sebagai berikut :
1.
Persiapan
Bahan Baku
a)
Nira bergula
(sukrosa) : tebu,kelapa,aren, sari buah mete
b)
Bahan berpati
: Tepung tepungan, sagu, singkong, ubi jalar, umbi dahlia
c)
Bahan
berselulosa (betha lignoselulosa) : kayu, jerami, batang pisang, batang jagung.
2.
Liquifikasi
dan Sakarifikasi
Kandungan
karbohidrat berupa tepung atau pati pada bahan baku dikonversi menjadi gula
komplex menggunakan Enzym Alfa Amylase melalui proses pemanasan (pemasakan)
pada suhu 90 derajat celcius (hidrolisis). Pada kondisi ini tepung akan
mengalami gelatinasi (mengental seperti Jelly). Pada kondisi optimum Enzym Alfa
Amylase bekerja memecahkan struktur tepung secara kimia menjadi gula komplex
(dextrin). Proses Liquifikasi selesai ditandai dengan parameter dimana bubur
yang diproses berubah menjadi lebih cair seperti sup. Sedangkan proses
Sakarifikasi (pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana) melibatkan
tahapan sebagai berikut :
a)
Pendinginan
bubur sampai mencapai suhu optimum Enzym Glukosa Amylase bekerja.
b)
Pengaturan
pH optimum enzim.
c)
Penambahan
Enzym Glukosa Amilase secara tepat dan mempertahankan pH serta temperatur pada
suhu 60 derajat celcius hingga proses Sakarifikasi selesai (dilakukan dengan
melakukan pengetesan kadar gula sederhana yang dihasilkan).
3.
Fermentasi
Pada
tahap ini, tepung telah telah berubah menjadi gula sederhana (glukosa dan
sebagian fruktosa) Selama proses fermentasi akan menghasilkan cairan
etanol/alkohol dan CO2. Hasil dari fermentasi berupa cairan mengandung
alkohol/ethanol berkadar rendah antara 7 hingga 10 % (biasa disebut cairan
Beer).
4.
Destilasi.
Destilasi
atau lebih umum dikenal dengan istilah penyulingan dilakukan untuk memisahkan
alkohol dalam cairan beer hasil fermentasi. Dalam proses distilasi, pada suhu
78 derajat celcius (setara dengan titik didih alkohol) ethanol akan menguap
lebih dulu ketimbang air yang bertitik didih 95 derajat celcius. Uap ethanol
didalam distillator akan dialirkan kebagian kondensor sehingga terkondensasi
menjadi cairan ethanol. Penyulingan ethanol dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara
:
a)
Penyulingan
menggunakan teknik dan distillator tradisional (konvensional). Dengan cara ini
kadar ethanol yang dihasilkan hanya berkisar antara antara 20 s/d 30 %.
b)
Penyulingan
menggunakan teknik dan distillator model kolom reflux (bertingkat). Dengan cara
dan distillator ini kadar ethanol yang dihasilkan mampu mencapai 90-95 %
melalui 2 (dua) tahap penyulingan.
5.
Dehidrasi
Hasil
penyulingan berupa ethanol berkadar 95 % belum dapat larut dalam bahan bakar
bensin. Untuk substitusi BBM diperlukan ethanol berkadar 99,6-99,8 % atau
disebut ethanol kering. Untuk pemurnian ethanol 95 % diperlukan proses
dehidrasi (distilasi absorbent) menggunakan beberapa cara,antara lain :
a)
Cara
Kimia dengan menggunakan batu gamping
b)
Cara
Fisika ditempuh melalui proses penyerapan menggunakan Zeolit Sintetis. Hasil
dehidrasi berupa ethanol berkadar 99,6-99,8 % sehingga dapat dikatagorikan
sebagai Full Grade Ethanol (FGE),barulah layak digunakan sebagai bahan bakar
motor sesuai standar Pertamina. Alat yang digunakan pada proses pemurnian ini
disebut Dehidrator.
Bioetanol memiliki kelebihan yaitu
hasil pembakarannya mengeluarkan gas CO2 lebih banyak daripada
bensin. Sehingga dapat menekan angka polusi di udara. Karena gas CO2 ini dapat
dipergunakan tumbuhan untuk melakukan fotosintesis. Diharapkan dengan adanya
bioetanol ini penggunaan bahan fosil berkurang dan hasil pembakaran yang
dipakai lebih ramah lingkungan.
Sumber :
Sarwendahs.
2013. Bioetanol Dari Tumbuhan. Jawa TImur. http://sarwendahs.blogspot.com/2012/04/bioetanol-bensin-dari-tanaman.html
Anonim.
Pelatihan Membuat Bioetanol Dari Singkong. Bogor. http://www.indobioethanol.com/sumber_lain.php
Adi.
2011. Kelebihan dan Kekurangan Bioetanol. https://tombomumet.wordpress.com/2011/03/29/keunggulan-dan-kelemahan-bioethanol/
Alpensteel. Bandung.
Proses Produksi Bioetanol. http://www.alpensteel.com/article/126-113-energi-lain-lain/510-proses-produksi-bioetanol
Anonim, Bahan bakaar
Etanol. http://id.wikipedia.org/wiki/Bahan_bakar_etanol
Tidak ada komentar:
Posting Komentar